Singgang singgung kayu wangkang kayu jagung gemrenggang
gemrenggung siiiiiiiiyung....
Itu adalah sebait nyanyian yang
biasa kami nyanyikan ketika akan memulai permainan panggalan (gasing).
Diakhir nyanyian kami bersama-sama melempar panggalan kami. Siapa yang mati
pertama maka dia akan menjadi unyik (mungkin rakyat jelata). Dan yang mati
kemudian akan menjadi panglima, terus patih dan yang mati terakhir akan menjadi
raja.
Unyik (atau mungkin sebagai rakyat) akan memutar panggalan paling
awal yang akan dihajar oleh prajurit setingkat diatasnya. Kemudian unyik bias dibantu
oleh panglima untuk mematikan prajurit. Begitu seterusnya sampai ke posisi paling atas. Apabila
mati lebih dulu dari posisi dibawahnya maka akan turun pangkat.
Misalkan prajurit mati lebih dulu dari unyik maka posisinya akan
turun menjadi unyik dan yang tadinya unyik akan naik menjadi prajurit. Sampai tingkat
yang paling atas. Ketika raja kalah atau mati lebih duluan dari maha patih maka
ia pun akan turun pangkat dan bertukar posisi dengan maha patih.
Itulah permainan yang kami mainkan setiap sore ketika saat musim
permainan panggalan. Meskipun sangat sederhana akan tetapi kami begitu senang
dan begitu menikmatinya. Sebenarnya masih banyak lagi permainan anak-anak era
90-an yang begitu mengasyikkan.
Dan permainan panggalan adalah salah satu dari sekian banyak
permainan anak pada waktu itu. Panggalan
yang mungkin dalam bahasa Indonesia disebut gasing.
Panggalan terbuat dari bahan kayu yang dibentuk sedemikan rupa ada yang
seperti balon yang sudah ditiup yang kemudian diberi paku dibawahnya sebagai
penopang untuk panggalan berputar. Kemudian dibantu dengan tali yang biasanya
terbuat dari kain tapih atau sejenisnya.
Cara bermainnya adalah dengan melingkarkan tali kain tadi dari
ujung paku panggalan kemudian dilemparkan ke tanah dan berputar.
Untuk permainan panggalan sendiri ada beberapa jenis yang salah
satunya adalah unyikan seperti yang tadi diceritakan di atas.
